<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.0.2" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>TV Consulto</title>
	<link>http://tvconsulto.com</link>
	<description>Konsultan TV Lokal Pertama di Indonesia</description>
	<pubDate>Tue, 25 Jul 2006 03:05:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>TI DALAM TEKNOLOGI PRODUKSI TV</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=58</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=58#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jul 2006 02:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://tvconsulto.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Dalam dunia broadcast atau jaringan televisi banyak yang berpikir bahwa produk utama dari televisi adalah tape. Tiap stasiun TV yang menggunakan teknologi lama memiliki sangat banyak tape sebagai dokumentasi dan dengan sistem manajemen dokumentasi yang tidak beraturan. Bisnis yang dijalankan stasiun TV adalah membuat gambar, yang diimplemtasikan dalam sistem Online Edit Suite (Sistem Editing), Master [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Dalam dunia broadcast atau jaringan televisi banyak yang berpikir bahwa produk utama dari televisi adalah tape. Tiap stasiun TV yang menggunakan teknologi lama memiliki sangat banyak tape sebagai dokumentasi dan dengan sistem manajemen dokumentasi yang tidak beraturan. Bisnis yang dijalankan stasiun TV adalah membuat gambar, yang diimplemtasikan dalam sistem Online Edit Suite (Sistem Editing), Master Control (Pengaturan Penyiaran)  dan Newsroom (Pengolahan berita).</p>
<p>Teknologi Informasi (TI) telah melakukan tranformasi terhadap model perkantoran konvensional. Mesin ketik telah digantikan oleh Word Processor (seperti MS-Word). Memo Internal yang biasanya disampaikan oleh sekretaris atau office boy ke setiap karyawan digantikan oleh fungsi email. Revolusi ini menciptakan apa yang disebut sebagai paperless office.  Stasiun TV juga bergerak maju dengan TI menuju tapeless production atau produksi televisi tanpa tape.</p>
<p>Televisi berbasis TI menggunakan komoditas hardware dan software TI untuk operasional yang secara tradisional menggunakan berbagaimacam perangkat video hardware. Ini membuat penghematan yang besar, sekaligus memperoleh keuntungan efesiensi dari sistem TI umumnya. Teknologi ini termasuk network (jaringan), shared (berbagipakai) storage dan database. Disamping Infrasturktur, sistem berbasis TI juga menjanjikan peningkatan integrasi antara proses kreatif dan bebagai aplikasi back office (aplikasi yang digunakan didalam kantor yang merupakan aplikasi pendukung bisnis utama, dalam hal ini bisa kita sebut aplikasi atau sistem televisi broadcast), dan juga integrasi dari perencanaan kerja/program sampai pada penjualan dan pemasaran. Potensi TI menawarkan peningkatan Business Intelegence tidak hanya untuk produksi, tapi juga untuk sistem manajemen pelanggan (seperti untuk TV kabel) dan interaksi dengan audiens, menyediakan informasi demografis serta peningkatan pendapatan dari iklan.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Kenapa Televisi Berbasis TI</strong></p>
<p>Stasiun TV Tradisional saat ini mulai melihat kompetisi dari sektor lain seperti dari telekomunikasi. Iklan komersial adalah pendapatan utama dari stasiun TV, namun saat ini sudah ada pemirsa yang menggunakan video on demand dibanding transmisi penyiaran pada umumnya, hal ini dapat mengancam bisnis model lama stasiun TV. Ini mengubah lingkup media televisi sehingga para broadcaster harus melihat berbagai cara yang lebih efesien untuk memproduksi dan mendistribusikan program acaranya.</p>
<p>TI menawarkan :</p>
<p>• Platform pemrosesan yang sangat murah.<br />
• Lingkungan Collaborative Storage (Berbagai pakai ruang penyimpanan)<br />
• Jaringan IP untuk distribusi dan pengiriman.</p>
<p>Kedengarannya mudah, tapi menggunakan perangkat TI  untuk menangani keluaran audio/video dari suatu proses produksi masih merupakan teknologi yang baru saja dapat diimplementasikan. Untuk bersaing dengan perangkat konvensional, diperlukan sistem pemrosesan tingkat tinggi dan media penyimpanan yang murah.<br />
 <br />
Workstation dual-processor terbaru sangat bagus bagi SD video, tapi secara perhitungan, pemrosesan intensif seperti efek dan encoding tetap menggunakan perangkat tambahan untuk akselerasi, khususnya untuk HD.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Kemajuan Perangkat TI</strong></p>
<p>Kinerja tinggi dari RAID Storage (teknologi penggabungan media storage/hardisk) saat ini dapat mencapai paling sedikit E2 per GB. Ini seperti 1 (satu) menit dari SD Video yang tidak dikompresi. Sepuluh storage ukuran terabyte yang digabungkan adalah hal umum di perusahaan TV saat ini. Kebutuhan lain adalah kecepatan yang tinggi untuk jaringan, saat ini Gigabit Ethernet sudah cukup memuaskan.</p>
<p>Produksi televisi memiliki proses yang linier. Content dilewatkan dari satu departemen ke bagian lain dalam suatu rantai proses. Operasional secara paralel hanya dibatasi oleh grafis dan desain sound. Track audio dapat dikerjakan secara terpisah dengan video dan kemudian disatukan kembali setelah dilakukan editing dan mixing. Editing Nonlinier memberikan kemampuan kerja secara bersama-sama (colaborative working) dengan materi audio/video yang sama, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan tape. Selain itu juga shared storage memungkinkan beberapa editor bekerja secara bersama-sama menangani satu set clip yang sama.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Bebagipakai Media Penyimpanan (Shared storage)</strong></p>
<p>Konsep shared storage saat ini adalah hal yang umum dalam lingkup editing, news dan playout multichannel, tapi shared storage tidak secara umum tersedia bagi seluruh operasional produksi.</p>
<p>Membangun jaringan video storage dengan kinerja tinggi masih menghadapi beberapa kendala dan tantangan. Jaringan editing umumnya mendukung sampai 50 mesin editing. Jaringan TV mungkin perlu sampai ratusan mesin editing. Dengan kondisi ini terjadi beberapa masalah seperti dibutuhkan sistem file khusus untuk memenuhi permintaan kinerja yang tinggi, koneksi harus dapat menangani bandwidth yang sangat besar.  </p>
<p>Sampai saat ini, jaringan video storage telah menggunakan koneksi tingkat tinggi seperti fiber channel (fibre optic). Jaringan konvensional Ethernet 10/100 Base T tidak memiliki kapasitas untuk layanan sinyal video. Itu berarti perubahan menggunakan GbE (Gigabit Ethernet) adalah hal yang harus dilakukan , tapi untuk berpindah dari SD ke HD harus ditingkatkan lagi kinerjanya.</p>
<p>Kompresi Kapasitas file Video (biasa kita sebut kompresi video) diharapkan menurunkan tingkat kebutuhan pada media penyimpanan dan kecepatan tranfer data pada jaringan. Sehingga teknologi kompresi yang tepat menjadi salah satu solusi TI untuk mencapai pemenuhan kebutuhan optimalisasi dari sistem produksi</p>
<p>Produksi HD meningkatkan kebutuhan media penyimpanan dan kinerja akses dan pemrosesan tingkat tinggi. Ukuran file yang sangat besar dan kecepatan tranfer data yang tinggi dari HD hampir saja meniadakan kemajuan dari kinerja sistem media penyimpanan yang dikembangkan dari teknologi disk dan jaringan. Namun penggunaan teknologi kompresi memungkinkan produksi HD ini.<br />
 <br />
Shared storage hanya diperlukan dimana editor/user perlu kerja secara bersama-sama. Disisi lain storage network akan melayani permintaan untuk melakukan transfer audio/video pada jaringan, sehingga perlu standard yang sama untuk memastikan interoperabilitas. Format yang sangat menjanjikan bagi broadcaster dalam tranfer file audio/video adalah AAF dan MXF.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Menyederhanakan Kebutuhan (Simplifying Demands)</strong></p>
<p>File MXF tidak menyelesaikan persoalan file interchange pada jaringan TI. Dengan membungkusnya dapat menjadi beberapa operational pattern (OP) untuk codecs yang berbeda seperti pada MPEG, DV dan JPEG2000. Untuk mendukung sepenuhnya pergerakan file, dibutuhkan engine transcoding. Desain sistem harus memastikan bahwa rangkaian dari codec tidak membuat artifact yang tidak dapat diterima dalam workflow media utama broadcast.</p>
<p>Produksi berbasis IT menimbulkan pertanyaan : Format apa yang digunakan untuk Archive? Produksi berbasis tape dapat menyimpan tape kamera orisinil, ditambah master program yang telah selesai. Dalam rantai produksi tapeless, apa yang seharusnya di archive dan apa formatnya? Haruskan dikomperesi atau didekompresi, pakai long GOP atau dicode I-frame? Jawabannya terletak pada nilai dari investasi perangkat broadcast dan model media penyimpanannya.<br />
Archiving (Pendokumentasian)</p>
<p>Disamping proses produksi yang membuat program sampai selesai, ada banyak manajemen service atau layanan lain seperti penjadwalan sumber daya, urutan/proses kerja dan perencanaan. Mengintegrasikan back-office biasanya membutuhkan banyak biaya. Layanan profesional yang mahal diperlukan untuk membangun integrasi aplikasi serta interface yang dapat dikostumisasi, seperti integrasi sistem management, finance atau aplikasi perencanaan. Melakukan upgrade satu aplikasi sering membutuhkan kerja lebih banyak untuk memperbaiki proses operasional dari data interface. Biaya awal dan kesulitan support, sering menghalangi broadcaster untuk integrasi aplikasi manajemen.</p>
<p><strong>Integrating the Back-Office</strong></p>
<p>Keuntungan integrasi back-office dapat dilihat dibanyak perusahaan, selanjutnya dalam dunia TV bagaimana broadcaster menemukan cara untuk melakukan efesiensi dan penghematan? Satu teknologi telah menjadi solusi atas pertanyaan tersebut yaitu Service-Oriented Architecture (SOA) menggunakan layanan Web.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Web services</strong></p>
<p>Ini dimulai dengan menggunakan area playout untuk interface antara automation dan back-office. Menggunakan arsitektur standar (seperti SOA), biaya pengembangan dari interface dapat ditekan serendah mungkin. Pengembang dapat berkonsentrasi pada data apa yang harus dipertukarkan tidak hanya bagaimana data dipertukarkan.</p>
<p>Web services bukanlah jawaban yang lengkap, tapi dapat menyederhanakan pengembangan integrasi interface yang terpisah antar aplikasi</p>
<p>Bagian Produksi secara tradisional menggunakan pengamanan fisik untuk melindungi media dari pencurian. Pada content sistem produksi berbasis TI, tidak hanya archive content yang terbuka dari serangan pencuri cyber, tapi juga informasi bisnis rahasia dapat terlihat dan tersebar di jaringan. Web Service menghadirkan masalah tersendiri yang dibawa oleh HTTP, hacker dapat melewati firewall dengan mudah.</p>
<p><strong>Security</strong></p>
<p>Ada banyak metode-metode yang sudah baku dalam  dalam membangun jaringan yang aman, tapi keamanan butuh biaya tambahan  dan harus menjadi faktor penentu untuk kearah Produksi berbasis TI agar dapat diimplementasikan.</p>
<p>Sistem Broadcasting berbasis TI menjanjikan peningkatan efesiensi dengan memudahkan kerja secara bersama dan peningkatan penggunaan manajemen informasi. Tantangannya adalah pada implementasi yang berhubungan dengan manusia dan kendala teknis. Kondisi  global dari dunia entertainment dengan berbagai macam variasi channel yang tersedia untuk disampaikan kepada audiens, permintaan layanan televisi dengan menggunakan berbagai media selain televisi, ada juga media web dan perangkat mobile.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Produksi TV berbasis IT memiliki banyak hal, mulai dari mengadopsi workflow berbasis file melalui back-office yang terintegrasi penuh. Kemudian sebagai produk TI biaya stasiun TV menjadi lebih murah dengan kinerja yang makin tinggi, ditambah lagi mudah dalam implementasinya sebagai suatu sistem, alasan untuk mengadopsi proses produksi berbasis TI  akan menjadi keharusan saat ini dan dimasa depan.</p>
<p>(David Austerberry-Broadcast Engineering) - Diterjemahkan oleh Ridwan Andi Kambau (Tenaga IT TV Consulto)
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=58</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>PEMANCAR  TELEVISI  VHF DAN UHF</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=57</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=57#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2006 02:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://tvconsulto.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[(Drs. Darmadi – http://www.tvconsulto.com/)
A. Kualitas Penerimaan Siaran Televisi
Besarnya signal penerimaan siaran televisi disuatu tempat dipengaruhi beberapa parameter dari stasiun pemancar yang meliputi antara lain :

Daya pancar
Gain dan sistem antena pemancar
Jarak lokasi pemancar dengan lokasi penerimaan
Frequency saluran yang digunakan
Gain dan antena sistem dari pesawat penerima
Profile chart antara antena pemancar dengan antena pesawat penerima
Ketinggian lokasi pemancar terhadap lokasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Drs. Darmadi – <a href="http://www.tvconsulto.com/">http://www.tvconsulto.com/</a>)</p>
<p><strong>A. Kualitas Penerimaan Siaran Televisi</strong></p>
<p>Besarnya signal penerimaan siaran televisi disuatu tempat dipengaruhi beberapa parameter dari stasiun pemancar yang meliputi antara lain :</p>
<ol>
<li>Daya pancar</li>
<li>Gain dan sistem antena pemancar</li>
<li>Jarak lokasi pemancar dengan lokasi penerimaan</li>
<li>Frequency saluran yang digunakan</li>
<li>Gain dan antena sistem dari pesawat penerima</li>
<li>Profile chart antara antena pemancar dengan antena pesawat penerima</li>
<li>Ketinggian lokasi pemancar terhadap lokasi penerima</li>
</ol>
<p>Apabila dinyatakan dalam rumus, dapat kita lihat dengan jelas parameter-parameter yang berpengaruh pada penerimaan signal siaran televisi :</p>
<p><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>fs</sub><sup>(db)</sup>  = P<sub>o</sub><sup>(db)</sup> + G<sub>ant Tx</sub><sup>(db)</sup> – A<sub>pl</sub><sup>(db)</sup> + G<sub>ant</sub> <sub>Rx</sub><sup>(db) </sup></font></font></span></strong><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman"><sup>  </sup></font></font></span></strong> </p>
<p><span lang="IN">P<sub>fs</sub><sup>(db)</sup></span>  : Level Field Strength dalam satuan dB</p>
<p><span lang="IN">P<sub>o</sub><sup>(db)</sup></span>  : Power Output pemancar dalam satuan dB</p>
<p><span lang="IN">G<sub>ant Tx</sub><sup>(db)</sup></span> : Gain antena pemancar dalam satuan dB</p>
<p><span lang="IN">A<sub>pl</sub><sup>(db)</sup></span>  : Anttenuasi Path Loss dalam satuan dB</p>
<p><span lang="IN">G<sub>ant Rx</sub><sup>(db)</sup></span> : Gain antena penerima dalam satuan dB</p>
<p> </p>
<p><strong>B. Daya Pancar</strong></p>
<p>Kiranya semua orang tahu bahwa besarnya daya pancar, akan mempengaruhi besarnya signal penerimaan siaran televisi disuatu tempat tertentu pada jarak tertentu dari stasiun pemancar televisi. Semakin tinggi daya pancar semakin besar level kuat medan penerimaan siaran televisi. Namun demikina besarnya penerimaan siaran televisi tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya daya pancar.</p>
<p><strong>C. Gain Antena</strong></p>
<p>Besarnya Gain antena dipengaruhi oleh jumlah dan susunan antena serta frequency yang digunakan. Antena pemancar UHF tidak mungkin digunakan untuk pemancar TV VHF dan sebaliknya, karena akan menimbulkan VSWR yang tinggi. Sedangkan antena penerima VHF dapat saja untuk menerima signal UHF dan sebaliknya, namun Gain antenanya akan sangat mengecil dari yang seharusnya.</p>
<p><strong>D. Path Loss (redaman Ruang) </strong></p>
<p>Path Loss dapat diartikan sebagai redaman propagasi, yaitu besarnya daya yang hilang dalam menempuh jarak tertentu. Besarnya redaman disamping ditentukan oleh kondisi alam seperti tidak adanya halangan antara pemancar dengan penerima dan kondisi altitude dari masing-masing lokasi maupun antara kedua lokasi, redaman sangat dipengaruhi oleh jarak antara pemancar dengan penerima dan frekwensi yang digunakan.   Dengan tanpa memperhitungkan kondisi alam dan lokasi dimana pemancar dan penerima berada, besarnya Path Loss dapat dihitung dengan menggunakan rumus “Free Space Loss” sebagai berikut :</p>
<p><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">A <sub>pl</sub><sup>(db)</sup> = +32,5<sup>(db)</sup> +(20 log D (km))<sup>(db)</sup> + (20 log F (Mhz))<sup>(db) </sup></font></font></span></strong><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman"><sup>  </sup></font></font></span></strong>   </p>
<p> </p>
<p><strong>E. Kebutuhan Daya Pancar</strong></p>
<p>Besarnya daya pancar yang diperlukan untuk menjangkau sasaran pada jarak tertentu dipengaruhi antara lain oleh besarnya frekwensi, ketinggian antena pemancar dan antena penerima serta profile antara lokasi pemancar dengan lokasi penerima, serta besarnya level kuat medan yang diharapkan dapat diterima oleh pesawat penerima.   Besarnya level kuat medan penerimaan siaran televisi untuk frekwensi band tertentu, CCIR/ ITU-R memberikan rekomendasi yang dapat digunakan sebagai referensi, namun demikina di setiap negara dapat saja memiliki kebijaksanaan tersendiri tentang kualitas penerimaan siaran televisi yang dikaitkan dengan persyaratan kuat medan minimum. Sampai saat ini di Indonesia belum ada kebijaksanaan khusus mengenai persyaratan minimum kuat medan pancaran siaran televisi yang harus dipenuhi untuk suatu penerimaan siaran televisi yang dianggap baik. Sementara itu, untuk kebutuhan perencanaan pengembangan perluasan jangkauan digunakan rekomendasi CCIR/ ITU-R sebagai acuan. Dibawah ini sebagai contoh disampaikan daftar kuat medan minimum menurut rekomendasi CCIR dan daftar kuat medan minimum yang digunakan oleh negara Australia.</p>
<p> <a title="CCIR417.JPG" href="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/CCIR417.JPG"><img id="image60" height="261" alt="CCIR417.JPG" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/CCIR417.JPG" /></a></p>
<p><a title="TelecomAus.JPG" href="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/TelecomAus.JPG"><img id="image61" height="263" alt="TelecomAus.JPG" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/TelecomAus.JPG" /></a></p>
<p>Untuk menganalisa perbedaan kebutuhan daya pancar antara pemancar VHF dengan UHF dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan propagasi gelombang pada “free space” ataupun menggunakan chart/ grafik propagasi yang disusun oleh CCIR serta dengan memegang variabel-variabel tertentu dalam kondisi yang sama. Pada kesempatan ini marilah kita lakukan perhitungan dengan menggunakan rumus propagasi gelombang pada “free space” dengan variabel-variabel yang dipegang tetap yaitu sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Jarak pemancar dengan penerima = 20 Km</li>
<li>Antara pemancar dan penerima tidak ada halangan/ obstacle dan ketinggian antena pemancar dan penerima tidak diperhitungkan</li>
<li>Frekwensi VHF = 200Mhz dan UHF = 500Mhz</li>
<li>Pfs = Field strength untuk VHF = 75dbuV/m = -30dBm/Z = 50Ohm</li>
<li>Pfs = Field strength untuk UHF = 80dBuV/m = -27dBm/Z = 50Ohm </li>
<li>Gant = Gain antena = 10dB</li>
<li>Po = power output pemancar</li>
</ol>
<p><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db) </sup>= P<sub>fs</sub><sup>(db) </sup>– G<sub>ant</sub><sup>(db) </sup>+ 32,5<sup>(db) </sup>+ (20logD(km))<sup>(db) </sup>+ (20logF(Mhz))<sup>(db) </sup></font></font></span></strong></p>
<p><strong><span lang="IN" /></strong>Dengan data sebagaimana tersebut diatas, dapat dihitung kebutuhan power output VHF yang dapat menjangkau sasaran sejauh 20Km adalah sebagai berikut :</p>
<p><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db) </sup>= P<sub>fs</sub><sup>(db) </sup>– G<sub>ant</sub><sup>(db) </sup>+ 32,5<sup>(db) </sup>+ (20logD(km))<sup>(db) </sup>+ (20logF(Mhz))<sup>(db) </sup></font></font></span></strong><span lang="IN"><font face="Times New Roman" size="3"> </font> </span></p>
<p><span lang="IN" /><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db) </sup>= -32bdm – 10db + 32,5db + 20log20 + 20log200 </font></font></span><span lang="IN"><font face="Times New Roman" size="3"> </font></span></p>
<p><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db)</sup> = -32bdm – 10db + 32,5db + 26db + 46db </font></font></span><span lang="IN"><font face="Times New Roman" size="3"> </font> </span></p>
<p><span lang="IN" /><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db)</sup> = 62,5 dbm = 2,5dbk = 1,8KW </font></font></span></p>
<p><span lang="IN" />Sedangkan untuk pemancar UHF diperlukan power output sebesar :</p>
<p><strong><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db) </sup>= P<sub>fs</sub><sup>(db) </sup>– G<sub>ant</sub><sup>(db) </sup>+ 32,5<sup>(db) </sup>+ (20logD(km))<sup>(db) </sup>+ (20logF(Mhz))<sup>(db) </sup></font></font></span></strong><span lang="IN"><font face="Times New Roman" size="3"> </font> </span></p>
<p><span lang="IN" /><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db) </sup>= -27bdm – 10db + 32,5db + 20log20 + 20log500 </font></font></span><span lang="IN"><font face="Times New Roman" size="3"> </font> </span></p>
<p><span lang="IN" /><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db)</sup> = -27bdm – 10db + 32,5db + 26db + 54db </font></font></span><span lang="IN"><font face="Times New Roman" size="3"> </font> </span></p>
<p><span lang="IN" /><span lang="IN"><font size="3"><font face="Times New Roman">P<sub>o</sub><sup>(db)</sup> = 75,5 dbm = 15,5dbk = 35KW</font></font></span> </p>
<p>Apabila dilakukan perhitungan dengan menggunakan grafik rumus propagasi gelombang pada “free space” dengan variable-variable yang dipegang tetap yaitu sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Jarak pemancar dengan penerima = 20Km</li>
<li>Antara pemancar dan penerima tidak ada halangan/ obstacle</li>
<li>Ketinggian antena pemancar = 150meter, dan ketinggian antene penerima penerima = 10meter</li>
<li>Pfs = Field strength untuk VHF = 75dbuV/m = -32dBm/Z = 50Ohm</li>
<li>Pfs = Field strength untuk UHF = 80dBuV/m = -27dBm/Z = 50Ohm </li>
<li>Gant = Gain antena = 10dB</li>
<li>Po = Power output pemancar</li>
</ol>
<p>Dengan data sebagaimana tersebut diatas dan dengan menggunakan standard CCIR, besarnya daya pancar dapat dihitung sebagai berikut :</p>
<p><strong>1. Perhitungan Daya Pancar Pemancar VHF,<br />
</strong>Dengan menggunakan grafik pada gambar 1, dapat dijelsakan bahwa dengan 1 Kw atau 0dbk ERP pada jarak 20Km dengan ketinggian antena pemancar 150 meter dapat diperoleh field strength sebesar 63dbuV/m. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa untuk mendapatkan field strength sebesar 75dbuV/m pada jarak 20Km diperlukan ERP sebesar 12dBk dan dengan menggunakan antena pemancar dengan Gain 10dB, power output pemancar VHF yang diperlukan sebesar 2dBk atau 1,58KW</p>
<p><strong>2. Perhitungan Daya Pancar Pemancar UHF,<br />
</strong>Dengan menggunakan grafik pada gambar 2, dapat dijelaskan bahwa dengan 1 KW atau 0dbk ERP pada jarak 20Km denagn ketinggian antena pemancar 150 meter dapat diperoleh Field Strength sebesar 61dbuV/m. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa untuk mendapatkan field strength sebesar 19dbk, dan dengan menggunakan antena pemancar dengan Gain 10dB, power output pemancar UHF yang diperlukan adalah sebesar 9dbk atau 8KW Dari uraian tersebut diatas dapat disampaikan bahwa untuk mendapatkan kualitas penerimaan gambar dan suara yang baik pada jarak yang sama diperlukan daya pancar yang lebih tinggi apabila menggunakan pemancar UHF dari pada apabila menggunakan pemancar VHF.</p>
<p><strong>F. Biaya Investasi</strong></p>
<p>Penggunaan pemancar UHF untuk menjangkau daerah sasaran yang sama jauhnya, diperlukan biaya investasi yang jauh lebih besar daripada menggunakan pemancar VHF. Hal ini sangat wajar karena untuk menjangkau sasaran tertentu pemancar UHF memerlukan daya yang 3 s/d 5 kali lebih besar daripada daya pemancar VHF. <strong>G. Kualitas</strong> Kualitas hasil pencaran dari pemancar VHF dibandingkan dengan kualitas hasil pancaran dari pemancar UHF adalah sama asalkan keduanya memenuhi persyaratan dan spesifikasi yang telah ditentukan. Perbedaan yang mungkin terjadi tudak akan dapat dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, tetapi hanya dapat diketahui dengan mengunakan alat ukur. Tidak adanya perbedaan kualitas penerimaan gambar dan suara dari pemancar televisi VHF dan UHF ini barangkali dapat ditanyakan kepada yang sempat melihat siaran televisi Singapore, Malaysia, Jepang ataupun Jerman, dimana perbedaan kualitas penerimaan siaran televisi VHF dan UHF tidak dapat di indentifikasi.</p>
<p><strong>PENGGUNAAN PEMANCAR VHF OLEH TVRI</strong></p>
<p>Berdasarkan peraturan internasional yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan frekwensi (Radio Regulation) untuk penyiaran televisi pada pita frekwensi VHF dan UHF. Sesuai dengan sistem pertelevisian yang dianaut oleh indonesia yaitu CCIR B dan G maka penggunaan frekwensi tersebut telah diatur sebagai berikut :</p>
<blockquote><p><strong>VHF band I : saluran 2 dan 3<br />
VHF band III : saluran 4 s/d 11<br />
VHF band IV : saluran 21 s/d 37<br />
VHF band V : saluran 38 s/d 70</strong></p></blockquote>
<p>Sejarah pertelevisian di Indonesia diawali pada tahun 1962 oleh TVRI di Jakarta dengan menggunakan pemancar televisi VHF. Pembangunan pemancar TVRI berjalan dengan cepat terutama setelah diluncurkannya satelite palapa pada tahun 1975. Pada tahun 1987, yaitu lahirnya stasiun penyiaran televisi swasta pertama di Indonesia, stasiun pemancar TVRI telah mencapai jumlah kurang lebih 200 stasiun pemancar yang keseluruhannya menggunakan frekwensi VHF, dan pemancar TV swasta pertama tersebut diberikan alokasi frekwensi pada pita UHF. Kebijaksanaan penggunaan pita frekwensi VHF untuk TVRI dan UHF untuk swasta pada saat itu dilakukan dengan beberapa pertimbangan yang menguntungkan negara sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Jumlah saluran TV pada pita VHF yang jumlahnua hanya 10 saluran hampir seluruhnya telah digunakan untuk 200 stasiun pemancar terutama di pulau Jawa, maka pemancar TV swasta yang pertama dan berlokasi di Jakarata dialokasikan pada pita frekwensi UHF.</li>
<li>Pemancar VHF lebih ekonomis dan tidak berbeda kualitasnya dengan pemancar TV UHF sangat cocok unruk stasiun penyiaran pemerintah yang terbatas dana pembangunannya.</li>
<li>Kesinambungan pemeliharaan dan penggantian pemancar TVRI yang 70% adalah buatan LEN sangat didukung oleh hasil produksi LEN yang belum memproduksi pemancar UHF.</li>
<li>TVRI terus memperluas jangkauannya sampai ke pelosok tanah air dimana saat itu masih banyak masyarakat di daerah yang belum mampu membeli pesawat TV berwarna dan pada saat itu pesawat hitam putih hanya dapat menerima saluran VHF.</li>
</ol>
<p><strong><em>Drs. Darmadi – Tenaga Ahli TV Consult, Mantan Kepala Bidang Transmisi Pusat Pembinaan Sarana Teknik RTF – Departemen Penerangan R.I. </em></strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=57</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>SEKILAS TV MARKETING</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=55</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=55#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jun 2006 03:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://tvconsulto.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[(Drs. Wardi Wahid, MM - http://www.tvconsulto.com/) 
PENJUALAN WAKTU (SELLING TIME)
Penjualan pada media berarti berurusan dengan sesuatu yang tidak terlihat (intangible goods) :

cita rasa publik (public taste)
Seni (art)
Citra (image)

Kenyataan yang paling penting dan gawat  dalam penjualan di media adalah bahwa media menjual “ waktu “. iklan  (waktu ) yang tidak terjual pada radio dan tv akan lenyap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Drs. Wardi Wahid, MM - <a href="http://www.tvconsulto.com/">http://www.tvconsulto.com/</a>) </p>
<p><strong>PENJUALAN WAKTU (SELLING TIME)</strong></p>
<p>Penjualan pada media berarti berurusan dengan sesuatu yang tidak terlihat (intangible goods) :</p>
<ul>
<li>cita rasa publik (public taste)</li>
<li>Seni (art)</li>
<li>Citra (image)</li>
</ul>
<p>Kenyataan yang paling penting dan gawat  dalam penjualan di media adalah bahwa media menjual “ waktu “. iklan  (waktu ) yang tidak terjual pada radio dan tv akan lenyap begitu saja dan hilang untuk selamanya untuk selamanya. Lain halnya dengan berjualan mobil, bila tidak terjual hari ini, besoknya mobil tersebut masih dapat dilihat di garasi atau show room dan siap untuk dijual. Oleh karena itu sales manager senantiasa berusaha menjual iklan (time slot) secepat mungkin di depan untuk siaran minggu depan, bulan depan bahkan tahun depan dan seterusnya.</p>
<p><strong>TVC &#038; PSA</strong></p>
<p>Materi iklan di tv biasa disebut tv commercials (tvc) atau “spot” yang dibedakan atas durasinya : 60’s, 30’s,15’s dan 10’s. Disamping spot iklan komersial, juga terdapat spot pelayanan masyarakat atau biasa disebut sebagai public service announcement (psa).</p>
<ul>
<li>Time slot yang belum terjual merupakan atau disebut sebagai “inventory”.</li>
<li>Target penjualan  ditetapkan secara tahunan dan diuraikan dalam tiga bulanan,        bulanan dan mingguan.</li>
</ul>
<p><strong><strong><strong><strong><strong> <img id="image56" height="325" alt="model.gif" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/model.gif" /></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><strong><img id="image57" height="267" alt="pemain.gif" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/pemain.gif" /> <img id="image58" height="258" alt="mekanisme.gif" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/mekanisme.gif" /> </strong></p>
<p><strong>PENJUALAN IKLAN TV </strong></p>
<ul>
<li><strong>Up front buying :</strong> agency membeli jauh di depan</li>
<li><strong>Scatter buying :</strong> agency menyimpan (menahan) sebagian biaya iklannya (network) untuk ditempatkan (dibeli) setelah dekat dengan waktu penyiaran yang diinginkan.</li>
<li><strong>Barter syndication :</strong> pemasang iklan menempatkan  iklannya pada  program  populer milik sindikator yang mempunyai time slot untuk dijual sendiri.</li>
<li><strong>Spot market :</strong> pembelian iklan , baik untuk siaran lokal ataupun nasional di masing-masing stasiun atau program guna menyampaikan pesan penting kepada target pemirsa</li>
</ul>
<p><strong>PENETUAN HARGA TVC</strong></p>
<p>Salah satu tugas penting dari manajer penjualan adalah menetapkan dan menyesuaikan harga iklan (time slot). Rumus umumnya,  harga iklan (tvc) merupakan hasil negosiasi , yang berhasil menjual paling banyak spot dengan harga tertinggi adalah pemenang.  Namun pedoman penjualan tetap harus dimiliki oleh setiap stasiun penyiaran komersial atau stasiun yang menyiarkan iklan, yakni berupa rate card. Harga yang tercantum dalam rate card inilah yang dalam prakteknya dinegosiasikan dengan pemberian diskon atau bonus tertentu dan fasilitas lainnya yang menarik bagi pemasang iklan.</p>
<p><strong>TARGET PENERIMAAN</strong></p>
<p>Target penerimaan dari siaran iklan dapat merupakan kewenangan kepala stsiun untuk menetapkannya atau ditetapkan oleh kantor pusat, baik target bulanan, tiga bulanan ataupun tahunan.</p>
<p><strong>PENJUALAN DAN TRAFFIK</strong></p>
<p>Petugas traffik dan penjualan harus mampu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik dan intensif guna menangani tugas yang sangat kompleks mengenai penjadwalan penyiaran iklan.  Dengan demikian staff penjualan mengetahui dengan persis mengenai time slot yang masih belum terjual dan iklan yang terjual telah terjadwalkan siaran.  Serta staff penjualan dapat memperoleh bukti tayang (print out) dengan segera , sebagai bukti kepada pemasang iklan bahwa iklannya telah ditayangkan sesuai yang dijanjikan. Petugas traffik harus mengetahui bahwa advertisers ( produsen ) tidak ingin iklanya dipasang berdekatan (back to back) dengan kompetitornya.</p>
<p><strong>TIPE PROMOSI PADA MEDIA</strong></p>
<ol>
<li>Audience promotion</li>
<ul>
<li>Aquisitive promotion : upaya  menarik pemirsa  untuk menonton acara baru atau program stasiun  baru.</li>
<li>Retentive promotion : upaya untuk mempertahankan pemirsa .</li>
</ul>
<li>Sales promotion: ditujukan kepada agency, perwakilan maupun advertiser (produsen ).</li>
<li>Public relation : ditujukan untuk membangun image stasiun di lingkungan komunitasnya.</li>
</ol>
<p><strong> <img id="image59" style="width: 495px; height: 306px" height="306" alt="share.gif" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/share.gif" width="495" /></strong></p>
<p><strong>RATING</strong></p>
<p>A rating is the percent of households tune to  a particular program from the total available tv households in a designated area. Rating adalah besarnya persentase rumah tangga pemilik tv yang menonton acara  tertentu dari seluruh pemilik tv di daerah tertentu</p>
<blockquote><p><strong>                         AUDIENCE<br />
RATING (%) = &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; x 100%<br />
                         UNIVERSE</strong></p></blockquote>
<p><strong>Contoh : <br />
</strong>Pemilik tv  (universe) : 2800 rumah tangga <br />
Yang menonton program “a” (audience) : 500rt,  <br />
Yang mrnonton program “b” (audience): 300rt              <br />
Rating program “a” = 500 : 2800 = 17,86 % = 18 <br />
( Penulisan rating cukup angka saja atau tanpa “%” )              <br />
RATING PROGRAM “B” = 300 : 2800 = 11</p>
<p><strong>SHARE</strong></p>
<p>A share is the percentage  of tv households with sets turned on that are watching your   program. Share adalah besarnya pesentse dari rumah tangga yang menonton acara anda dibandingkan denganseluruh rumah tangga yang menghidupkan  (turned on) tv nya.</p>
<blockquote><p>                     CHANNEL AUDIENCE<br />
SHARE (%) = &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; X 100%<br />
                       TOTAL AUDIENCE </p></blockquote>
<p><strong>Contoh:<br />
</strong>Share program “a”  = 500 : 1600 = 31.    <br />
Share program “b”  = 300 : 1600 = 18,75  atau 19    <br />
RT YANG MENGHIDUPKAN TV (households using television/HUTS) = 1600:2800 = 57%</p>
<p><strong>CPM</strong></p>
<blockquote><p>CPM = cost per thousand (not million) To determine cpm you divide  the cost of advertising  by total number people  reached by the advertisement (in thousand). Contoh : Biaya pemasangan spot iklan pada Stasiun TV : Rp15.000.000,- Dapat mencapai : 75.000.000,- pemirsa, maka :</p>
<ul>
<li>CPM :  15.000.000 : 75.000.000 = Rp200,- ( tiga nol diwarnai merah atau dicoret karena perhitungan CPM dalam ribuan). </li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>TIPE RATING :</strong></p>
<ul>
<li>Average rating                     : (PM &#038; diary)</li>
<li>Program rating                    : (PM &#038; diary)</li>
<li>Commercial break rating     : (people meter)</li>
<li>Minute by minute rating      : (people meter)</li>
<li>Commercial rating               : (people meter)   </li>
</ul>
<p><strong>YANG MEMPENGARUHI RATING a.l.:</strong></p>
<ul>
<li>Programming ( isi &#038; durasi)</li>
<li>Opposition programs (kompetitor)</li>
<li>Scheduling (jam tayang)</li>
<li>Incidental moments ( kontekstual)</li>
<li>Reception quality (mutu penerimaan signal).</li>
<li>Promotion (promosi)</li>
</ul>
<p><strong>INDEX </strong></p>
<p>Index analysis or population index is an analysis tool which measures the effectiveness level of the specific target audience compared to all people.                        </p>
<p><strong>RATING SAJA TIDAK CUKUP :</strong></p>
<p>Rating hanya memperlihatkan banyaknya pemirsa suatu acara, bukan menunjukkan mutu . oleh karena itu effectiveness &#038; efficiency tidak cukup hanya diukur secara kuantitatif (rating),melainkan diperlukan qualitative research.</p>
<p><strong>LAST BUT NOT LEAST,<br />
WHO ARE YOU ?</strong></p>
<p><em><strong>SALESMEN  SELL  WHAT  THEY   HAVE GOT </strong></em></p>
<p><em><strong>MARKETERS  GET  WHAT  THEY  CAN SELL</strong></em></p>
<p> 
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=55</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>TV LOKAL : MAMPUKAH MEREKA BERSAING ?</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=54</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=54#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jun 2006 03:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://tvconsulto.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[(Drs. Wardi Wahid, MM - http://www.tvconsulto.com/) 
PENGANTAR
Tulisan ini terutama ditujukan untuk menjawab secara umum  pertanyaan saudara Arief seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pada sebuah PTS di Yogyakarta.
Inti pertanyaannya adalah :
Bagaimana  strategi pemasaran TV Lokal dan apakah TV Lokal mampu bersaing , diterima masyarakatnya atau setidaknya mampu merebut sebagian kue iklan ? 
PROGRAM DAN PENERIMAAN DARI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Drs. Wardi Wahid, MM - <a href="http://www.tvconsulto.com/">http://www.tvconsulto.com/</a>) </p>
<p><strong>PENGANTAR</strong><br />
<em>Tulisan ini terutama ditujukan untuk menjawab secara umum  pertanyaan saudara Arief seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pada sebuah PTS di Yogyakarta.<br />
Inti pertanyaannya adalah :<br />
Bagaimana  strategi pemasaran TV Lokal dan apakah TV Lokal mampu bersaing , diterima masyarakatnya atau setidaknya mampu merebut sebagian kue iklan ? </em></p>
<p><strong>PROGRAM DAN PENERIMAAN DARI IKLAN</strong></p>
<p>Televisi merupakan bisnis yang tidak hanya memerlukan biaya investasi awal yang besar untuk pengadaan infrastruktur , peralatan produksi studio dan penyiaran (pemancar dan jaringan transmisi), melainkan juga memerlukan biaya operasional yang besar, terutama untuk  biaya produksi dan pengadaan (pembelian) program.</p>
<p>Dukungan biaya operasional yang cukup dan stabil dari pemilik sangat menentukan kemampuan suatu stasiun TV untuk memproduksi dan menyiarkan program bermutu, menarik, diminati dan dibutuhkam masyarakat. Dukungan dana tersebut terutama pada tahun-tahun awal pengoperasiannya sampai mampu mandiri (setelah menguntungkan).<br />
Dalam kaitan ini , menarik dan cukup relevan bagi pengelola TV Lokal mengenai apa yang disampaikan Byron G. Wells :</p>
<p>“……You are going to need many things before  you  even get close to going on the air – things  like  aspirin, money, aspirin,  petience, aspirin,  money ………<br />
After a while, if your     programming  is good, if the advertising comes in and if you  get  a few lucky breaks, the station may start  to pay…… In fact, you might even start  drawing a bit of salary for yourself………”</p>
<p>Popularitas dan image merupakan kunci keberhasilan suatu stasiun televisi dalam merebut kue iklan atau memperoleh pendapatan dan keuntungan dari siaran komersial. Banyak faktor (variabel) yang menentukan image stasiun televisi, namun yang terpenting adalah mutu program siarannya dan kualitas penerimaan signal (reception quality) di masyarakat.<br />
Karena pada gilirannya, program bermutu  akan menarik (menghasilkan) banyak pemirsa – populer - dan pemirsa yang besar jumlahnya akan menarik bagi pemasang iklan (advertiser) untuk beriklan di stasiun yang bersangkutan.</p>
<p>Sebaliknya, image dan popularitas suatu stasiun TV akan terpuruk apabila tidak mampu menghadirkan program bermutu sehingga tidak menarik bagi pemasang iklan.</p>
<p>Sebenarnya, pemasang iklan tidak melihat atau tidak terpaku pada mutu suatu program - bagus atau tidak  - melainkan yang terpenting bagi mereka adalah berapa banyak pemirsa yang menontonnya (ditunjukkan oleh program rating).<br />
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa stasiun televisi sebenarnya bukan menjual proram kepada pengiklan melainkan menjual pemirsa (model dibawah).</p>
<p><a class="imagelink" title="TVLOKAL.JPG" href="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/TVLOKAL.JPG"><img id="image53" style="width: 499px; height: 174px" height="174" alt="TVLOKAL.JPG" src="http://localhost/wp-content/uploads/2006/06/TVLOKAL.JPG" width="499" /></a></p>
<p>Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program bermutu akan menghasilkan popularitas dan image yang kuat serta pemirsa yang besar jumlahnya. Pemirsa yang besar jumlahnya akan menarik pengiklan  dan pada gilirannya akan menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang besar.  Pendapatan dan keuntungan yang besar akan membuat stasiun mampu untuk memproduksi dan mengadakan program yang semakin kompetitif. Namun sebaliknya, apabila stasiun tidak mampu membangun popularitas dan image-nya pada tingkat yang wajar maka stasiun yang bersangkutan tidak akan mampu merebut kue iklan , pendapatan sangat rendah , tidak menguntungkan  (rugi), sehingga juga tidak akan mampu mengadakan  program yang kompetitif.  Apabila kondisi ini yang tercipta, pemilik atau investor perlu turun tangan , tanpa suntikan dana dari pemilik (investor) stasiun akan kolaps dengan sendirinya.<br />
Ungkapan  lainnya, program yang bagus dan pendapatan iklan ibarat ayam dan telur.</p>
<p><strong>PEMASARAN DAN PENJUALAN</strong></p>
<p>Strategi pemasaran tidak dapat dilepaskan dari strategi program dan programming dari stasiun secara keseluruhan.<br />
TV Lokal mempunyai kekuatan tersendiri yaitu pada “kelokalannya” yang tidak mungkin disaingi oleh stasiun jaringan sebagai pesaing terberat stasiun lokal. Persoalannya tinggal lagi bagaimana menciptakan , memproduksi dan mengemas program yang berkonten lokal, seperti: berita lokal, kegiatan (peristiwa) masyarakat lokal, peristiwa hangat lokal, pendidikan dan hiburan lokal. Secara ringkas perlu diterapkan strategi differentiation pada programming. Disamping itu perlu pula diterapkan strategi segmentation pada program dan waktu yang tepat dan stategi overall cost leadership.<br />
Dari ketiga strategi diatas dapat diturunkan strategi operasional program dan  penjualan yang sesuai.<br />
Dalam kaitan strategi penjualan, Charles Warner &#038; Joseph Buchman mengatakan bahwa strategi yang biasa diterapkan oleh para broadcasters adalah :<br />
1. To sell solution to advertising problems<br />
2. To create value.</p>
<p>Untuk menjalankan strategi diatasTV Lokal sangat penting untuk memiliki tenaga programming dan tenaga penjualan yang  kuat , terdidik dan terampil dibawah supevisi manajer program dan manajer penjualan yang menguasai bidangnya. Bagi stasiun yang tidak mau mengambil risiko rugi besar tentu telah mempersiapkan kedua kelompok tenaga tersebut jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak mengherankan bahwa stasiun televisi jaringan (TV Swasta Nasional) yang  tergolong sukses saat ini  - berpusat di Jakarta -   semuanya menggunakan jasa konsultan dan disupervisi tenaga ahli berpengalaman pada tahun-tahun awal pengoperasiannya. Mereka benar, karena bisnis televisi hanya memberikan dua opsi yaitu: untung besar atau rugi besar.</p>
<p><strong>PERSAINGAN DAN EKSISTENSI</strong></p>
<p>Saingan terberat TV Lokal adalah TV Jaringan (TV Swasta Nasional) yang beroperasi dari Jakarta disamping TV  Lokal lainnya di daerah yang sama.<br />
Menghadapi persaingan dari TV Jaringan ini tidak ringan karena program TV Jaringan telah lebih dahulu digandrungi oleh masyarakat daerah bahkan mungkin  digunakan sebagai barometer untuk mengukur dan menilai program  TV Lokal. Sehingga masalah yang dihadapi  TV Lokal adalah bagaimana merebut minat pemirsa tersebut.<br />
Terlepas dari kondisi daerah masing-masing (terutama apabila kondisi ekonomi cukup mendukung), dengan menerapkan secara benar dan  konsisten strategi diatas  kiranya  TV Lokal akan mampu bersaing dan eksis di daerahnya.</p>
<p> </p>
<p align="right">                                                                                      Jakarta, 27 Oktober 2005</p>
<p align="right">W.W<br />
                                                                                                                    
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=54</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>SEKILAS MERANCANG SISTEM PERALATAN STUDIO</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=53</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=53#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jun 2006 03:16:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://tvconsulto.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[(Drs.Wardi Wahid, MM - http://www.tvconsulto.com/) 
1.PERUMUSAN KEBUTUHAN
Dalam merumuskan kebutuhan sistem peralatan perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1.1. SEGI PRODUKSI
Pertimbangannya antara lain :

Jenis dan ukuran program , misalnya :

News 
Talk show 
Musik (besar , sedang atau kecil)
Drama (besar, sedang atau kecil) dan lain-lain

Ukuran (luas lantai) studio

kecil (50 m2 – 300m2)
Menengah (350 m2 – 500 m2)
Besar (600m2 – 1000m2) 

tipe produksi :

rekaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Drs.Wardi Wahid, MM - <a href="http://www.tvconsulto.com/">http://www.tvconsulto.com/</a>) </p>
<p><strong>1.PERUMUSAN KEBUTUHAN</strong></p>
<p>Dalam merumuskan kebutuhan sistem peralatan perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.1. SEGI PRODUKSI</strong></p>
<blockquote><p>Pertimbangannya antara lain :</p>
<ul>
<li>Jenis dan ukuran program , misalnya :</li>
<ul>
<li>News </li>
<li>Talk show </li>
<li>Musik (besar , sedang atau kecil)</li>
<li>Drama (besar, sedang atau kecil) dan lain-lain</li>
</ul>
<li>Ukuran (luas lantai) studio</li>
<ul>
<li>kecil (50 m2 – 300m2)</li>
<li>Menengah (350 m2 – 500 m2)</li>
<li>Besar (600m2 – 1000m2) </li>
</ul>
<li>tipe produksi :</li>
<ul>
<li>rekaman saja atau </li>
<li>termasuk siaran langsung (live).</li>
</ul>
<li>Hasil produksi full kompetitif (target komersial)  atau tidak, ini terutama kaitannya dengan mutu dan pengadaan peralatan yang menghasilkan effek, daya tarik audio/visual dan  peningkatan mutu, seperti vision mixer, sound  mixer, lighting system  dan peralatan paska produksi (editing, dubbing, mixing dan lain-lain).</li>
<li>Perkiraan volume produksi </li>
<ul>
<li>lokasi produksi (di studio saja atau termasuk luar                   studio).</li>
<li>Tingkat mobilitas yang diinginkan</li>
<li>Budget yang akan di alokasikan untuk pengadaan peralatan.</li>
</ul>
</ul>
<p> </p>
<div style="text-align: center"><img id="image50" height="249" alt="stud1.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/stud1.gif" /></div>
<div style="text-align: center" /></blockquote>
<p><strong>1.2. SEGI PENYIARAN</strong></p>
<blockquote><p>Pertimbangannya antara lain:</p>
<ul>
<li>Apakah kegiatannya menyiarkan saja atau dengan kegiatan produksi terbatas.</li>
<li>Menyiarkan saja artinya menerima bahan siap siar dari luar ( program provider, production house).</li>
<li>Apakah ada kemungkinan pengolahan kembali (re-editing atau paska produksi)  bahan siaran yang diterima dari pihak luar ( production house),</li>
<li>Berapa besar kegiatan atau volume paska produksi yang akan dilakukan.</li>
<li>Produksi terbatas bisa berarti bahwa hanya memproduksi  program tertentu dengan volume kecil, misalnya : berita  dan talkshow.</li>
<li>Tipe siaran (hasil rekaman atau live)</li>
<li>Siaran dari studio saja atau termasuk dari luar.</li>
<li>Tipe siaran (hasil rekaman saja atau termasuklive)</li>
<li>Siaran dari studio saja atau termasuk dari luar </li>
<li>Siaran dilaksanakan secara manual, semi automatik atau full automatik.</li>
<li>Perkiraan waktu siaran dan durasi jam siaran.</li>
<li>Lokasi pemancar (dekat dengan studio atau relatif berjauhan),</li>
<li>Jumlah lokasi pemancar , jarak antar pemancar serta  kondisi geografis. </li>
<li>Sifat pengoperasian masing-pemancar yang diinginkan  (manual atau unattended). </li>
<li>Pertimbangan-pertimbangan segi produksi yang terkait  dengan penyiaran juga harus menjadi pertimbangan dalam  pengedaan peralatan pemancar.</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>1.3. SEGI PENDUKUNG</strong></p>
<blockquote><p>Dalam melaksanakan kegiatan produksi dan penyiaran dibutuhkan peralatan teknik      lainnya sebagai pendukung, biasanya disebut teknik umum atau teknik prasarana.</p>
<p>Peralatan teknik umum antara lain:<br />
         - Pembangkit daya listrik dan diesel<br />
         - Alat pendingin (ac)<br />
         - Alat komunikasi<br />
         - Komputer (it)<br />
         - Peralatan pembuatan dekorasi dan konstruksi.<br />
         - Alat transportasi dan lain-lain.</p>
<p>Pertimbangan utama dalam pengadaan peralatan teknik umum terutama adalah; harus mampu mendukung kegiatan  produksi dan penyiaran secara effektif dan effisien.</p></blockquote>
<p><strong>2.  MERANCANG SYSTEM PERALATAN</strong></p>
<p><strong>2.1. PERSYARATAN UMUM</strong></p>
<p>     Persyaratan umum yang perlu diperhatikan dalam merancang system peralatan, baik<br />
     peralatan produksi, penyiaran maupun teknik umum antara lain:</p>
<ul>
<li>Memenuhi persyaratan internasional dan nasional;</li>
<li>Adanya jaminan kontinuitas dukungan suku cadang  (biasanya sekitar 10 thn) dan  layanan  purna jual;</li>
<li>Mempunyai daya tahan (reliability) yang tinggi.</li>
<li>Kemudahan memperoleh suku cadang; </li>
<li>Praktis dalam pengoperasian dan pemeliharaan; </li>
<li>Kemudahan pengintegrasiannya dengan sistem  peralatan lainnya;</li>
</ul>
<blockquote><p>DISAMPING ITU PERLU JUGA DIPERHATIKAN :</p>
<ul>
<li>Populasi (pengguna) peralatan secara internasional maupun nasional;</li>
<li>Lokasi keagenan terdekat; </li>
<li>Pengalaman pengguna sebelumnya; </li>
<li>Peralatan yang digunakan kompetitor; </li>
<li>Kemampuan sdm yang mungkin dapat disediakan; </li>
<li>Tidak berlebihan (sesuai kebutuhan); </li>
<li>Kemudahan pengembangan sistem peralatan di kemudian hari (up grading) sejalan dengan peningkatan kebutuhan;</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>2.2. KONFIGURASI PERALATAN</strong></p>
<p>Berdasarkan kebutuhan yang telah ditetapkan sebelumnya, disusun daftar kebutuhan   peralatan dengan disertai gambar secara block diagram ( garis besar) , mencakup:</p>
<p>       <strong>A. PERALATAN PRODUKSI:</strong> </p>
<ul>
<ul>
<li>Camera system (studio camera dan eng/efp camera)</li>
<li>Video system</li>
<li>Audio system </li>
<li>Editing (and dubbing) system</li>
<li>VCR system</li>
<li>Lighting system </li>
<li>Master control </li>
<li>Production control </li>
<li>Commucation system </li>
<li>Mobile production unit </li>
<li>Maintenance equipment dan lain-lain.</li>
</ul>
</ul>
<p>      <strong>B. PERALATAN PENYIARAN</strong></p>
<ul>
<ul>
<li>Sending vcr system</li>
<li>Continuity studio equipment</li>
<li>Camera system </li>
<li>Audio system</li>
<li>Video system </li>
<li>Lighting system </li>
<li>Master control ( sharing dengan produksi)</li>
<li>Peralatan transmisi :</li>
<ul>
<li>pemancar</li>
<li>Microwave link</li>
<li>Up &#038; down link </li>
</ul>
</ul>
</ul>
<p><strong>C. PERALATAN PENDUKUNG (TEKNIK UMUM).</strong> </p>
<ul>
<li>Pembangkit daya listrik: </li>
<ul>
<li>Stationary (pln, generator sets) </li>
<li>Mobile/protable:</li>
<ul>
<li>Mobile generator sets sebagai kelengkapan mobile production unit; </li>
<li>small silent generator set.</li>
</ul>
</ul>
<li>Alat pendingin (ac) untuk studio dan ruang peralatan</li>
<li>Alat komunikasi</li>
<ul>
<li>Stationary </li>
<li>Protable: handy talky, mobile phone. </li>
</ul>
<li>Komputer (it) untuk komputer grafis.   </li>
<li>Mobil untuk transportasi  tim produksi dan penyiaran serta reporter </li>
<li>Mobil untuk transportasi peralatan pendukung  siaran luar.</li>
</ul>
<div><strong>2.3. TIM PERENCANA/KONSULTAN </strong></div>
<div>Untuk menghasilkan rencana dan pembangunan  studio dan system peralatan yang optimal biasanya dibentuk tim perencana.  Tim  perencana setidaknya berasal dari tiga bidang utama, yaitu : </div>
<ol>
<li>
<div>Tenaga ahli di bidang perencanaan gedung studio (arsitek, sipil, elektrikal dan         mekanikal); </div>
</li>
<li>
<div>Tenaga ahli di bidang peralatan  televisi ( peralatan produksi dan penyiaran/transmisi); </div>
</li>
<li>
<div>Tenaga ahli di bidang program televisi disamping itu , dapat pula dilibatkan ahli di bidang lain sebagai nara sumber atau pada tahap sesuai kebutuhan (kemajuan proses perencanaan). </div>
</li>
</ol>
<p><strong>2.4. SPESIFIKASI TEKNIK PERALATAN</strong></p>
<p align="center"><img id="image51" height="388" alt="stud2.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/stud2.gif" align="left" /> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Secara garis besar spesifikasi teknik  peralatan mencakup antara lain :</p>
<ul>
<li>Frekuensi dan tegangan listrik yang dibutuhkan, Peralatan serta toleransi yang  diizinkan ( PLN : 220volt/50hz);</li>
<li>Kondisi lingkungan : temperatur dan kelembaban (Humidity) lingkungan dimana peralatan dapat berfungsi secara normal; </li>
<li>Ukuran fisik peralatan (volume dan berat); </li>
<li>Kharakteristik (parameter) video dan audio secara lengkap yang mencerminkan mutu atau klasifikasi peralatan;</li>
</ul>
<p>     <img id="image52" height="202" alt="stud3.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/stud3.gif" /></p>
<p><strong>PERHATIAN : SEMUA HAL TERSEBUT DIATAS HARUS DIRINCI DALAM DOKUMEN KONTRAK PENEGADAAN PERALATAN</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=53</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>PEMANCAR TELEVISI UNATTENDED</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=44</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jun 2006 05:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[(Drs. Darmadi – www.tvconsulto.com)
PENGANTAR
Mengingat luasanya sebaran penduduk (misalnya Indonesia), mulai wilayah perkotaan sampai kedaerah pelosok, daerah pegunungan yang jauh, bahkan pulau-pulau kecil dan daerah terpencil lainya, sedangkan penduduk di wilayah terpencil, walaupun jumlah penduduknya relatif kecil dan dengan segala keterbatasan (SDM dan fasilitas lainya), tetap perlu mendapat pelayanan siaran televisi seperti halnya masyarakat perkotaan. Maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong>(Drs. Darmadi – </strong><a href="http://www.tvconsulto.com/"><strong>www.tvconsulto.com</strong></a><strong>)</strong></p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Mengingat luasanya sebaran penduduk (misalnya Indonesia), mulai wilayah perkotaan sampai kedaerah pelosok, daerah pegunungan yang jauh, bahkan pulau-pulau kecil dan daerah terpencil lainya, sedangkan penduduk di wilayah terpencil, walaupun jumlah penduduknya relatif kecil dan dengan segala keterbatasan (SDM dan fasilitas lainya), tetap perlu mendapat pelayanan siaran televisi seperti halnya masyarakat perkotaan. Maka TVRI sebagai televisi yang dimiliki pemerintah mengambil alternatif untuk membangun pemancar TV Unattended, yang secara garis besar sistemnya diuraikan sebagai berikut.</p>
<p><strong>A. PENGERTIAN</strong></p>
<p>Stasiun pemancar televisi “Unattended” adalah stasiun pemancar televisi yang dapat bekerja atau beroperasi tanpa petugas operator. Sedangkan stasiun pemancar televisi “Attended” adalah stasiun pemancar yang dioperasikan oleh petugas operator. Stasiun pemancar TV Unattended dari cara operasinya dapat dibedakan dalam 2 (dua) katagori yaitu :</p>
<p><strong>1. Remote Control Operation</strong><br />
Stasiun pemancar televisi Unattended secara remote control pengoperasiannya dikendalikan dan dipantau dari suatu tempat tertentu yang layak dihuni dan dilakukan dengan telemetri. Untuk itu diperlukan saluran transmisi untuk telemetri dua arah guna menyampaikan perintah-perintah operasional dan menerima laporan hasil monitoring. Sistem Unattended type ini biasanya digunakan untuk pemancar-pemancar yang memiliki daya output besar, yaitu diatas 5 (lima) KW. Pemancar tersebut merupakan pemancar TV induk (mother station) yang akan direlay oleh stasiun-stasiun transmisi pengulang. Di negara-negara maju, dimana telepon telah tersedia sampai di pelosok-pelosok daerah, saluran telemetri dapat mengunakan saluran telepon.</p>
<p><strong>2. Automatic Control Operation</strong><br />
Stasiun pemancar televisi Unattended sistem “Automatic Control Operation”, pengendalian operasinya dilakukan oleh stasiun pemancar TV sebelumnya melalui signal TV yang dipancarkan dan diterima oleh stasiun pemancar TV Unattended dimaksud. Apabila stasiun pemancar TV tersebut dikendalikan oleh suatu stasiun pemancar TV induk, maka apabila stasiun pemancar TV induk beroperasi memancarkan sinyalnya, dan sinyal tersebut diterima oleh stasiun pemancar TV Unattended dimaksud, maka ia secara otomatis akan beroperasi, dan sebaliknya apabila pemancar TV induk mati, tidak lagi memancarkan sinyalnya dan stasiun pemancar Unattended tidak menerima signal, maka ia akan switch off, untuk menjamin kesinambungan siaran, konfigurasi sistem sarana pemancarnya terdiri dari dua pemancar, pemancar utama dan pemancar cadangan. Apabila pemancar utama mengalami gangguan, maka pemancar cadangan secara otomatis mengambil alih tugas pemancar utama. Konfigurasi ini biasanya digunakan untuk stasiun transmisi pengulang (repeater station) dengan pemancar – pemancar yang memiliki daya output 1 (satu) KW kebawah.</p>
<p>Monitoring untuk stasiun pemancar tipe ini dipercayakan kepada masyarakat umum tanpa ikatan atau kepada beberapa orang dari masyarakat didaerah pancarannya yang diberi tugas selaku informan. Tugas informan dimaksud sangat sederhana, yaitu apabila siaran terganggu (tidak ada siaran pada saatnya) agar melapor/ menelepon petugas stasiun pemancar televisi terdekat. Monitoring seperti ini akan sangat efektif apabila telepon telah menjangkau ke seluruh pelosok daerah dengan baik.</p>
<p><strong>B. TUJUAN PEMBANGUNAN STASIUN PEMANCAR TV UNATTENDED</strong></p>
<p>Sistem stasiun pemancar TV Unattended ini dirasakan sangat diperlukan dewasa ini, sehubungan dengan telah berkembangnya jumlah stasiun-stasiun pemancar TV yang telah mencapai angka  438 lokasi yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Jumlah tersebut masih terus berkembang dan sebagian besar berada diatas gunung/ bukit di daerah terpencil. Namun sebelum membahas tentang syarat-syarat atau spesifikasi, sebaiknya dibahas dulu tentang apa tujuan atau apa yang diharapkan dari stasiun pemancar TV Unattended. Melaksanakan siaran yang berupa siaran televisi bagi masyarakat di wilayah yang jauh, sulit dicapai dan terpencil serta wilayah blank spot atau wilayah tidak dapat menerima siaran TV dengan baik karena hambatan geografis dan sebagainya.<br />
Hal-hal yang diharapkan  yaitu antara lain :</p>
<p><strong>a). Meniadakan sumber daya manusia,</strong><br />
untuk pengoperasikan peralatan, tidak diperlukannya sumber daya manusia untuk mengoperasikan (operator) peralatan berarti dapat diperoleh keuntungan (penghematan) berupa fasilitas operator di lokasi, fasilitas sosial untuk keluarga operator serta tentunya gaji untuk operator</p>
<p><strong>b).Tanpa pengamanan tenaga manusia,</strong>¼br /> keuntungan pada butir B ini jenisnya sama dengan keuntungan sebagaimana disebutkan dalam butir a diatas, kalaupun ada pengamanan oleh tenaga manusia, mengenai jumlah dan sifatnya berbeda (kecil dan sederhana) dengan pengamanan pada lokasi stasiun  pemancar yang diopersikan tenaga manusia, sehingga biayanya sangat rendah.</p>
<p><strong>c). Menghemat biaya transportasi,</strong><br />
keuntungan yang diperoleh disini meliputi tidak ada biaya transportasi untuk datang ke lokasi, Sedangkan frekuensi kegiatan pemeliharaan dan perbaikan sangat tergantung dari reliability (kehandalan) dari peralatan pemancar yang digunakan semakin handal peralatan tentunya semakin berkurang frekuensi kerusakan dan sebaliknya. Semakin tinggi reliability suatu peralatan semakin mahal harga peralatan tersebut. Namun dalam sistim stasiun pemancar TV Unattended, apa bila digunakan peralatan pemancar dengan tingkat reliability yang rendah maka akan sering terjadi kerusakan dan harus sering didatangi untuk perbaikan, yang akhirnya biaya pemeliharaan menjadi semakin tinggi.</p>
<p><strong>d). Menghemat bahan bakar,<br />
</strong>mengurangi atau bahkan meniadakan kegiatan pengisian bahan bakar sangat tergantung dari kondisi fasilitas umum yang  tersedia di lokasi. Bila di sekitar lokasi sudah tersedia jaringan listrik PLN maka tentu saja tidak diperlukan gebnerator sebagai penggerak mula utama, melainkan hanya sebagai cadangan saja, sehingga kebutuhan bahan bakar tidak terlalu besar. Sehingga dalam hal ini pemilihan lokasi sangat penting. Disamping itu besarnya daya listrik yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan. Apabila daya listrik yang diperlukan tidak terlalu besar maka dapat digunakan pembangkit daya listrik alternatif yang tidak menggunakan bahan bakar melainkan menggunakan solar cell.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>C.  KRITERIA DAN DESAINS STASIUN PEMANCAR TELEVISI UNATTENDED</strong></p>
<p>Stasiun pemancar TV Unattended memiliki banyak kriteria tergantung dari masing-masing disain. Setiap disain memiliki sifat atau ciri-ciri untuk mendapatkan solusi dari tujuan/ harapan yang diinginkan beberapa alernatif disain adalah sebagai berikut :</p>
<p><strong>1. Otomatisasi Pengoperasian Peralatan<br />
</strong>Sebagaimana telah diuraikan terdahulu otomatisasi pengoperasian peralatan dapat dibedakan dalam dua katagori yaitu :</p>
<p><strong>a). Remote Control Operation<br />
</strong>Katagori ini memerlukan biaya investasi yang lebih mahal dari pada “Automatic Control Operation”, karena pengoperatian tetap dilakukan oleh operator, hanya tidak dilakukan dilokasi stasiun pemancar yang berada di daerah terpencil, melainkan dari suatu pusat pengendalian dengan menggunakan remote control. Disamping itu kondisi atau status peralatan di stasiun pemancar yang terpencil tersebut dikirimkan melalui transmisi telemetri ke operator untuk dimonitor.</p>
<p><strong>b). Automatic Control Operation<br />
</strong>Katagori ini memerlukan biaya investasi relatif lebih rendah dari pada “Remote Control Operation”. Karena pada automatic control operation, peralatan yang digunakan untuk mengoperasikan stasiun pemancar secara otomatis sangat sederhana, dan tidak diperlukan pengiriman data kondisi dan status peralatan untuk monitoring. Sistim otomatisasi hanya menggunakan sinyal dari pemancar sebelumnya (pemancar induk) untuk menghidupkan dan mematikan peralatan. Pada saat pemancar di induk beroperasi maka sinyal pancarannya diterima dan digunakan untuk menghidupkan peralatan pemancar unattended, dan pada saat pemancar induk sebelumnya dimatikan maka stasiun pemancar TV Unattended tidak menerima sinyal dan secara otomatis memberikan perintah untuk mematikan peralatan. Secara singkat dapat disampaikan bahwa beroperasi dan tidak beroperasinya peralatan di stasiun pemancar unattanded tergantung pada pengoperasian pemancar distasiun sebelumnya (pemancar induk).</p>
<p><strong>2. Otomatisasi pengamanan<br />
</strong>Otomatisasi pengamanan disini mungkin agak sulit atau mungkin memerlukan beaya lebih tinggi dari pada menggunakan sumber daya manusia sebagai pelaksana pengamanan. Di luar negri sistim pengamanan menggunakan  sistem alarm apabila tamu tak diundang memasuki stasiun pemancar TV Unattended, sinyal alarm tersebut dikirim secara otomatis akan dikirim ke stasiun pengendali, petugas di stasiun pengendali kemudian menguji sinyal alarm untuk meyakinkan bahwa yang masuk adalah tamu tak diundang. Setelah yakin, maka petugas melapor ke polisi dan polisi akan datang ke stasiun Unattended melakukan pengamanan. Sistim pengamanan sebagai mana diuraikan diatas hanya digunakan untuk pemancar besar dan menggunakan sistem “Remote Control Operation”. Sedangkan untuk stasiun-stasiun pemancar kecil yang menggunakan “Automatic Control Operation”, menggunakan sistem alarm biasa, yaitu apabila tamu tak diundang masuk ke ruangan pemancar maka alarm akan berbunyi dan mengundang perhatian dan diharapkan polisi akan datang mengamankan.</p>
<p><strong>3. Penggunaan Peralatan dengan Reliability tinggi dan sistem Back-Up<br />
</strong>Tujuan utama pembangunan stasiun pemancar televisi dengan sistem Unattanded adalah tidak diperlukannya petugas operator untuk tinggal dilokasi yang terpencil serta mengurangi atau kalau mungkin meniadakan kunjungan ke lokasi untuk perbaikan atau perawatan peralatan. Tujuan ini ditetapkan karena biasanya lokasi stasiun pemancar yang bersangkutan berada dipuncak bukit, ditengah hutan yang belum pernah dijamah manusia sehingga untuk menuju ketempat lokasi memerlukan pembangunan prasarana jalan yang cukup panjang dan mahal. Maka dapat saja disusun disain stasiun pemancar televisi unattended yang pengiriman peralatan dan material pembangunannya dikirim dengan helikopter. Diharapkan setelah peralatan dipasang, sistem akan beroperasi secara otomatis dengan baik selamanya. Untuk mencapai kondisi ini maka diperlukan peralatan yang betul-betul handal atau memiliki reliability yang tinggi. Apabila reliability peralatan kurang baik, maka akan sering terjadi kerusakan yang memerlukan perbaikan. Untuk melaksanakan perbaikan diperlukan biaya tinggi karena lokasi hanya dapat dicapai dengan helikopter. Meningkatnya frekuensi kerusakan memerlukan peningkatan kunjungan yang memerlukan biaya yang besar, dan apabila ini terjadi maka sistem stasiun Unattended tidak lagi efektif.<br />
Disamping tingkat kehandalan yang tinggi untuk peralatan diperlukan pula penggunaan sistem back-up atau 1 + 1. Sistem back-up dimaksud adalah sistem peralatan yang terdiri dari sub-sistem peralatan utama dan sub-sistem peralatan cadangan. Dalam hal sub sistem peralatan utama terganggu maka sub-sistem peralatan cadangan menggantikan peran sub-sistem peralatan utama. Sistem seperti ini mempunyai keunggulan disamping dapat menjaga kesinambungan siaran, juga bagi petugas maintenance atau petugas perbaikan cukup datang dengan peralatan pengganti dan peralatan yang rusak dibawa ke workshop untuk perbaikan. Perbaikan tidak perlu dilakukan di lokasi stasiun pemancar, karena disamping akan memerlukan waktu yang lama, juga diperlukan alat ukur yang lebih banyak yang pada gilirannya meningkatkan biaya perbaikan.</p>
<p><strong>4. Sistem Catu Daya<br />
</strong>Sistem catu daya di Indonesia merupakan permasalahan tersendiri. Di luar negri, di negara-negara yang telah maju hal ini bukan lagi merupakan masalah, karena jaringan catu daya listrik dari perusahaan listrik seperti PLN sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri yang bersangkutan. Di Indonesia sebagaimana di negara yang sedang berkembang lainnya, jangankan di puncak bukit terpencil, di kota kecamatanpun belum tentu tersedia catu daya listrik yang handal.</p>
<p>Penyediaan catu daya listrik dengan menggunakan diesel generator sampai daya yang besarpun tidak ada masalah di Indonesia. Namun permasalahannya adalah untuk lokasi yang terpencil tanpa ada prasarana jalan menuju lokasi, diperlukan biaya yang tinggi untuk memasok bahan bakar. Untuk catu daya listrik dengan daya rendah tidak menjadi masalah, karena dapat di bangun dengan sistem catu daya listrik solar cell. Untuk daya yang besar sistem catu daya listrik solar cell bukannya tidak mungkin untuk dibangun, namun memerlukan biaya investasi yang tidak sedikit.</p>
<p>Sampai saat ini TVRI mengoprasikan cukup banyak pemancar Unattended (antara lain lihat tabel)</p>
<p>Dilokasi pemancar tersebut TVRI menunjuk seorang penduduk setempat untuk menjaga keamanan dan kebersihan. Sedangkan teknisi TVRI cukup melakukan tugas berkala untuk pemeriksaan maupun perbaikan apabila terjadi kerusakan. Sehingga TVRI menyebut kelompok pemancar tersebut sebagai “semi” Unaatended, karena tetap tersedia tenaga manusia di lokasi tersebut.</p>
<p>Daftar Stasiun Pemancar TVRI Semi Unattended<br />
(Dibangun tahun 1991/ 1992)</p>
<p><img id="image47" height="177" alt="tabel.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/tabel.gif" /> </p>
<p><strong>D.   SISTEM STASIUN PEMANCAR TVRI  “SEMI” UNATTENDED</strong></p>
<p><strong>1. Sistem Peralatan<br />
</strong>Sistem peralatan stasiun pemancar TVRI “semi” Unattended terdiri dari :</p>
<p><img id="image43" height="233" alt="PemancarUnattended.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/PemancarUnattended.gif" />         </p>
<p align="center">Gb. 1  Stasiun Pemancar TV Unattended</p>
<p><strong>a). TVRO<br />
</strong>TVRO merupakan singkatan dari Television Receive Only. Jadi TVRO merupakan peralatan penerima satelite yang hanya digunakan untuk menerima siaran televisi terdiri dari :</p>
<blockquote><p>1). Antena Parabola<br />
2). Alat penerima Satelite ( Satelite Reveiver )</p></blockquote>
<p>Siaran TVRI dari stasiun pusat Jakarta di Senayan di transmisikan ke stasiun bumi Cibinong melalui stasiun microwave Telkom di GATSU ( Jl. Gatot Subroto). Dari stasiun bumi Cibinong siaran TVRI ditransmisikan melalui UP-Link ke SKSD PALAPA yang kemudian mentransmisikan kembali ke bumi ke seluruh wilayah nusantara. Siaran TVRI yang ditransmisikan kembali ke bumi melalui frekuensi band 4GHz diterima oleh parabola dan diteruskan ke penerima satelite (satelite receiver). Di satelite receiver  siaran TVRI yang dimodulasikan pada frekuensi 4 GHz band didemodulasi (diproses) kembali sebagai input signal bagi pemancar TVRI yang berfungsi untuk memancarkan kembali kepada masyarakat di wilayah siarannya.</p>
<p><strong>b). Pemancar TV</strong><br />
Pemancar TV yang digunakan disini adalah pemancar televisi dengan  sistem CCIR PAL B untuk frekuensi band VHF, dan sistem CCIR PAL G untuk frekuensi band UHF. Sedangkan daya pancar yang digunakan sangat tergantung dengan luas daerah yang ingin dijangkau (coverage area). Tetapi dalam sistem stasiun pemancar TV Unattended, untuk mendapatkan tingkat efisiensi yang tinggi, besarnya daya pancar pemancar perlu dipertimbangkan bersamaan dengan penyediaan catu daya listrik dari fasilitas umum yang tersedia. Apabila dilokasi yang telah ditentukan untuk stasiun pemancar tidak tersedia catu daya listrik dari PLN, dan menggunakan diesel generator sendiri tidak cukup effisien atau sulit karena kondisi geografis, maka catu daya listrik alternatif adalah menggunakan solar cell. Namun tingkat efisiensi tinggi yang masih dapat diperoleh dengan menggunakan catu daya solar cell untuk pemancar televisi dengan daya pancar sampai dengan 10Watt.</p>
<p>Konfigurasi pemancar televisi dapat di disain sesuai kebutuhan yaitu single sistem, “cold stand-by sistem” atau “hot stand-by sistem”. Pada Single sistem hanya memiliki satu sistem peralatan, dan tidak memiliki sistem peralatan cadangan. Sehingga apabila peralatan pemancar mengalami gangguan maka siaran akan terputus untuk daerah jangkauan yang bersangkutan, sampai peralatan mendapat perbaikan.</p>
<p>Konfigurasi cold stand-by sistem dan hot stand-by sistem keduanya memiliki sistem peralatan stand-by (cadangan). Pada cold stand-by sistem, sistem peralatan cadangan akan beroperasi apabila sistem peralatan utama mengalami gangguan. Perpindahan pengoperasian sistem peralatan utama ke sistem peralatan cadangan dapat di disain secara otomatis, namun siaran akan terganggu kurang dari satu menit. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut, misalnya Pemancar I sebagai peralatan utama, dan Pemancar II sebagai pemancar cadangan. Pemancar I (satu) beroperasi sebagai pemancar utama terhubung ke antena dan Pemancar II (dua) sebagai pemancar cadangan terhubung ke dummy load melalui “Coaxial switch”. Apabila Pemancar I (satu) mengalami gangguan, maka Pemancar I (satu) secara otomatis akan dimatikan dan daya output hilang (tidak ada). Tidak adanya daya output pemancar I (satu) merupakan informasi (pemerintah) bagi Pemancar II (dua) untuk beroperasi menggantikan peranan pemancar I (satu). Proses pergantian pemancar ini secara bertahap adalah sebagai berikut : Pemancar I (satu) mendapat gangguan, Pemancar I (satu) “Off”, Daya output pemancar I (satu) hilang, coaxial switch yang semula menghubungkan Pemancar I (satu)  ke Antenna dan Pemancar II (dua) ke dummy load, berputar sehingga berfungsi  menghubungkan Pemancar II (dua) ke Antena dan Pemancar I (satu) ke dummy load, Pemancar II (dua) “On” dan daya output pemancar II (dua) disalurkan ke antenna untuk ditransmisikan.<br />
       ¼br /> <img id="image48" height="519" alt="pemancaruntt.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/pemancaruntt.gif" /></p>
<p>Konfigurasi sistem pemancar  hot stand-by sistem,  beroperasi dengan kedua sistem peralatan pemancar secara  bersama-sama dan daya output masing-masing pemancar bergabung, apabila satu pemancar memiliki daya output sebesar 1 (satu) KW maka gabungan kedua pemancar menjadi 2 (dua) KW. Apabila salah satu sistem peralatan pemancar mengalami gangguan, sistem peralatan pemancar satunya  masih tetap beroperasi sehingga siaran tidak terhenti, hanya daya output pemancar menurun menjadi hanya 25 % dari nominal daya output pemancar.</p>
<p><strong>2. Sistem Catu Daya Listrik<br />
</strong>Sistem catu daya listrik yang paling menguntungkan adalah apabila di lokasi telah tersedia jaringan listrik umum dari PLN, dan sebagai cadangan dapat saja digunakan diesel generator. Apabila dilokasi tidak terdapat jaringan listrik PLN maka diesel generator dapat digunakan sebagai peralatan utama dan peralatan cadangan. penggunaan diesel generator dapat  didisain unuk daya berapa saja, namun untuk stasiun pemancar Televisi Unattended, pengiriman bahan bakar secara rutin perlu menjadi pertimbangan.</p>
<p>Pembangunan catu daya listrik yang tidak memerlukan pasokan bahan bakar dapat digunakan sollar cell yang berfungsi mengubah energi panas matahari menjadi energi listrik. Namun harga sollar cell dirasakan masih cukup tinggi, sehingga berdasarkan hasil perhitungan, penggunaan sollar cell untuk stasiun pemancar TVRI masih cukup efisien apabila digunakan untuk mengoperasikan peralatan pemancar televisi dengan daya pancar sampai dengan 10Watt/ untuk daya pancar lebih dari itu, bukan tidak mungkin untuk di disain melainkan menjadi lebih mahal dan tidak efisien. Maka  pembangunan perdana stasiun pemancar TVRI “semi” Unattended yang lokasinya terpencil dan belum tersedia jaringan PLN menggunakan catu daya sollar cell dan daya pancar 10Watt.</p>
<p><strong>3. Sistem Operasional</strong><br />
Sistem pengoperasian stasiun pemancar TVRI “semi” Unattended seharusnya menggunakan sistem remote control operation, karena stasiun pemancar yang dibangun bukan merupakan Stasiun Pengulang. Berhubung  sistem ini dianggap masih cukup mahal maka dicari upaya agar stasiun pemancar ini dapat dioperasikan dengan sistem otomatic control operation dengan melakukan beberapa modifikasi sehingga stasiun pemancar TVRI ini merupakan stasiun pemancar “semi” Unattended.</p>
<p>Modifikasi yang dilakukan adalah bahwa seharusnya sistem otomatic control operation bekerja apabila ada signal dari stasiun sebelumnya (stasiun pemancar pengulang) namun berhubung signal syncronisasi televisi dari TVRO selalu ada maka pemancar televisi akan hidup terus menerus selama 24 jam sedangkan waktu TVRI tidak sampai 24 jam. Kondisi seperti ini sangat tidak efisien dan membahayakan, karena disamping merupakan pemborosan energi juga adanya kemungkinan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Modifikasi yang dilakukan adalah bahwa pemancar televisi akan beroperasi apabila tersedia signal syncronisasi dan pada jam-jam tertentu sesuai dengan jadwal siaran TVRI/ untuk itu ditambahkan peralatan “TIME CONTROL” yang dapat diprogram setiap hari selama seminggu dan berulang terus. Misalnya pada hari pertama (senin) pemancar beroperasi dari jam 05.30 sampai dengan jam 12.00 dan dari jam 14.00 sampai dengan jam, 24.00 dan seterusnya.</p>
<p><em><strong>Drs. Darmadi - Tenaga Ahli TV Consult, Mantan Kepala Bidang Transmisi Pusat Pembinaan Sarana Teknik RTF – Departemen Penerangan R.I.<br />
</strong></em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>SEKILAS TV PROGRAMMING</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=42</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=42#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jun 2006 02:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[(Drs.Wardi Wahid, MM - www.tvconsulto.com) 
KEGIATAN PROGRAMMING MENCAKUP:  

Pemantauan dan pengkajian kecenderungan masyarakat dan kompetitor serta mengelola persaingan.
Penyusunan pola acara dan kriteria acara.
Penetapan sumber program.
Pemilihan dan penetapan program.
Pengembangan program.
Penyusunan acara harian (Run Down).
Persetujuan produksi.
Penilaian bahan siaran
Pemantauan siaran

     
APAKAH PROGRAMMING ITU ?

Dari sudut pemirsa, Programming adalah proses penyediaan materi siaran yang sesuai keinginan dan kebutuhan pemirsa yang dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Drs.Wardi Wahid, MM - www.tvconsulto.com) </strong></p>
<p><strong>KEGIATAN PROGRAMMING MENCAKUP:  </strong></p>
<ul>
<li>Pemantauan dan pengkajian kecenderungan masyarakat dan kompetitor serta mengelola persaingan.</li>
<li>Penyusunan pola acara dan kriteria acara.</li>
<li>Penetapan sumber program.</li>
<li>Pemilihan dan penetapan program.</li>
<li>Pengembangan program.</li>
<li>Penyusunan acara harian (Run Down).</li>
<li>Persetujuan produksi.</li>
<li>Penilaian bahan siaran</li>
<li>Pemantauan siaran</li>
</ul>
<p><strong>     <img id="image39" height="184" alt="cons1.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/cons1.gif" width="266" /></strong></p>
<p><strong>APAKAH PROGRAMMING ITU ?</strong></p>
<ul>
<li>Dari sudut pemirsa, Programming adalah proses penyediaan materi siaran yang sesuai keinginan dan kebutuhan pemirsa yang dapat ditonton pada waktu yang paling sesuai bagi mereka;</li>
<li>Sedangkan bagi stasiun TV, Programming adalah mendapatkan dan mengembangkan program serta menjadwalkan penyiaraannya agar dapat menarik sebanyak mungkin pemirsa dan bersaing dengan seluruh kompetitor yang ada.</li>
</ul>
<p><strong>WAKTU  </strong></p>
<ul>
<li>Waktu yang paling sesuai bagi pemirsa untuk menonton acara TV adalah diluar waktu yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari (seperti diluar waktu kerja, waktu sekolah, tidur dan lain-lain), biasa disebut sebagai <em>Prime Time</em>.</li>
<li>Periode Prime Time merupakan waktu yang paling potensial untuk banyak penontonnya dan kesempatan terbesar untuk bersaing dengan stasiun lainnya.</li>
<li>Prime Time dapat berbeda-beda untuk setiap negara, dan dapat dikelompokkan atas : <em>Morning Time, Afternoon Prime Time, dan Evening Prime Time</em>.</li>
</ul>
<p> </p>
<p><strong>HAL YANG PENTING DIPERHATIKAN DALAM PROGRAMMING ANTARA LAIN: </strong> </p>
<ol>
<li>Jangkauan siaran (Nasional atau Lokal);</li>
<li>Audience Research</li>
<li>Penjadwalan (Pola waktu masyarakat, Target Audience dan lain-lain.</li>
<li>Isi program</li>
<li>Konteks program</li>
<li>Variasi program</li>
<li>Kombinasi terbaik (optimal) antara idealisme dan kepentingan bisnis (Profit)</li>
</ol>
<p><strong>    <img id="image40" height="311" alt="cons2.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/cons2.gif" width="308" /></strong></p>
<p><strong>FAKTOR-FAKTOR LAIN YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH SETIAP ORANG DI INDUSTRI TELEVISI ADALAH :</strong></p>
<ul>
<li>Market Structure</li>
<li>Distribution</li>
<li>Programme Supply</li>
<li>Branding and Retailing</li>
<li>Revenue</li>
</ul>
<p><strong>MARKET STRUCTURE</strong>  </p>
<ol>
<li>Struktur pasar tidak stastis</li>
<li>Kemampuan suatu stasiun untuk bertahan sebagai stasiun dominan tergantung pada  pengelolaan beberapa asset:<br />
Kuncinya antara lain :</li>
<ul>
<ul>
<li>Jangkauan Siaran (Coverage)</li>
<li>Image organisasi, Kanal dan program yang kuat</li>
<li>Top manajemen yang ahli</li>
<li>Kemampuan memproduksi (In-House)</li>
<li>Kontrak yang kuat dengan Program Suppliers</li>
</ul>
</ul>
<li>Bagi stasiun penyiaran yang ingin bertahan tetap dominan bertahun-tahun harus mempertahankan kepemimpinan dan keunggulannya dalam hal sumber dan distribusi program.</li>
<li>Sedangkan bagi pemain baru harus mengambil langkah strategis, apakah akan bersaing secara Head To Head dengan pemimpin pasar atau bergerak di bidang komplimenternya.</li>
<ul>
<ul>
<li>Bintang pengisi acara</li>
<li>Manajemen berpengalaman</li>
<li>Keahlian teknis</li>
<li>Rating tinggi</li>
<li>Penerimaan tinggi</li>
<li>Dukungan politis</li>
</ul>
</ul>
<li>Namun harus diperhatikan pula hambatan atau kelemahan sebagai berikut:</li>
</ol>
<p>Struktur pasar tidak stastis</p>
<ul>
<ul>
<li>Birokratis</li>
<li>Tidak bisa berkompetisi</li>
<li>Biaya tetap yang tinggi</li>
<li>Biaya Variabel yang tinggi</li>
<li>Kewajiban kepada publik (PSO)</li>
</ul>
</ul>
<p><strong>DISTRIBUTION</strong></p>
<p>Jaringan distribusi (transmisi) sangat penting bagi stasiun TV, tidak ada gunanya program yang bagus bila tidak ada yang dapat melihatnya.</p>
<p><strong>PROGRAMME SUPPLY </strong></p>
<ul>
<li>Produksi sendiri (In-House Production)</li>
<li>In-House Production Facility (Studio, Peralatan dan Tim Produksi yang terampil) merupakan salah satu kekuatan stasiun TV dan tidak mudah ditiru kompetitor dengan cepat dan mahal.</li>
<li>Kekuatan lainnya dari suatu stasiun TV adalah pada Berita (News)</li>
<li>Dibeli</li>
<li>Produksi kerjasama (Co Production atau Joint Venture)</li>
</ul>
<p><strong>BRANDING AND RETAILING </strong></p>
<ol>
<li>Marketing dan promosi merupakan bagian yang kritis bagi stasiun TV.</li>
<li>Stasiun TV dapat membangun Image Brand Marketing pada beberapa level, seperti:</li>
</ol>
<p><strong>Marketing dan promosi merupakan bagian yang kritis bagi stasiun TV.</strong></p>
<ul>
<ul>
<li>Perusahaan (The Company)</li>
<li>Kanal (The Channel)</li>
<li>Penempatan acara harian (The Daypart)</li>
<li>Program</li>
<li>Pembawa acara (The Presenter)</li>
<li>Segmen</li>
<li>Barang Souvenir (Merchandising)</li>
</ul>
</ul>
<p><strong>REVENUE</strong></p>
<p><strong>License Fee</strong></p>
<ul>
<li>Advertising Revenue</li>
<li>Subscription</li>
<li>Subsidi Pemerintah</li>
<li>Hibah</li>
<li>Usaha Non Siaran (Merchandising dan lain-lain)</li>
</ul>
<p><strong>      <img id="image41" height="148" alt="cons3.gif" src="http://tvconsulto.com/wp-content/uploads/2006/06/cons3.gif" width="170" /></strong><br />
<strong>ADVERTISING </strong></p>
<ol>
<li>Besarnya penerimaan melalui iklan ditentukan oleh : Total Advertising Air Time yang ada di pasar dan Market Share masing-masing kanal (Stasiun).</li>
<li>Tinggi rendahnya iklan di TV dipengaruhi oleh :</li>
</ol>
<ul>
<ul>
<li>Peraturan pemerintah yang membatasi siaran iklan;</li>
<li>Lobby media cetak</li>
</ul>
</ul>
<p> 
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=42</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>CMOS: SENSOR IMAGE YANG MULAI BERSINAR PENGGANTI CCD</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=34</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=34#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jun 2006 08:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[(Drs. Widyanto, MSc - www.tvconsulto.com)
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi sensor image selalu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi IC ( Integrated Circuit). Sekitar awal tahun 2000 teknologi proses manufactur baru mampu pada angka 0.8 micron dan secara cepat melaju ke 0.2 micron, sehingga semakin tinggi kerapatan komponen dan kecepatan atau clock frekuensi yang dicapai untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entrytext"><strong>(Drs. Widyanto, MSc - </strong><a href="http://www.tvconsulto.com/"><strong><font color="#0066cc">www.tvconsulto.com</font></strong></a><strong>)</strong></p>
<p>Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi sensor image selalu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi IC ( Integrated Circuit). Sekitar awal tahun 2000 teknologi proses manufactur baru mampu pada angka 0.8 micron dan secara cepat melaju ke 0.2 micron, sehingga semakin tinggi kerapatan komponen dan kecepatan atau clock frekuensi yang dicapai untuk ditanamkan pada sebuah chip silicon. Saat ini teknologinya telah sampai pada angka 0.18 micron atau lebih kecil, dan akan semakin mengecil seiring berjalannya waktu.   </p>
<div>Complementary Metal Oxide Semiconductor atau CMOS pada awalnya dikenal sebagai teknologi yang dipakai untuk membuat prosesor mikro dan memori komputer, seperti Pentium. Namun seiring perkembangan teknologi micron di atas, telah membuka cakrawala baru bagi aplikasi penggunaan CMOS untuk mendampingi, bahkan nantinya menggantikan CCD (Charge Coupled Device) sebagai sensor image yang telah cukup lama dipakai pada kamera elektronik berkualitas broadcast.       </p>
<div>Adalah Photobit, sebuah perusahaan di California, Amerika,  yang pertama memperoleh hak paten untuk teknologi pembuatan chip sensor piksel aktif untuk aplikasi teleconferensi, video cell phone, scanner, sistem penglihatan pada robot dan beberapa macam mainan, dari kualitas VGA sampai HDTV. Kemudian Rockwell Scientific Co,. juga di Amerika, yang pada mulanya mengembangkan penggunaan CMOS untuk aplikasi khusus sensor image bagi bidang astronomi (teleskop Hubble), maupun keperluan dan tugas pemerintahan serta militer.       </p>
<div>Teknologi manufaktur untuk CCD terkenal mahal dan hanya sedikit perusahaan yang memproduksi CCD, seperti Sony, NEC dan Philips/ Thomson. Namun diharapkan jika nanti konsumen beralih ke CMOS, akan lebih banyak “pemain” yang dapat ikut berperan sehingga akan menekan ongkos produksi. Sensor CMOS menggunakan mainstream proses teknologi semikonduktor untuk chip microprosesor dan memori.       </p>
<div>Pada satu chip CMOS, sekaligus dapat ditanamkan jajaran pikselnya (pixel array) sendiri, fungsi timing dan control logic beserta converter analog ke digitalnya. Dengan demikian akan terjadi bentuk miniatur dari suatu fungsi dan proses tertentu, dan mengurangi komponen periperal (chip eksternal) yang biasanya menyertai sebuah chip CCD yang berfungsi sebagai sensor image. Bentuk yang lebih kecil dan fungsi yang lebih banyak dari chip CMOS ini juga akan berpengaruh pada konsumsi tenaga yang akan lebih sedikit.       </p>
<div>Jika sebuah sensor CCD menerima dan meneruskan cahaya yang diterima oleh sensornya dari piksel ke piksel dan akhirnya sampai pada sebuah amplifier, maka sensor CMOS mempunyai amplifier yang terpisah untuk setiap pikselnya. Perbedaan ini sangat berpengaruh pada frekuensi clock, amplifier sensor CCD akan bekerja pada rate frekuensi keseluruhan pikselnya, sehingga akan timbul noise yang semakin signifikan jika frekuensi semakin tinggi. Sementara sensor CMOS setiap amplifiernya bekerja untuk sebuah piksel dan bekerja secara paralel, sehingga frekuensi kerjanya jauh lebih kecil, demikian juga noise yang ditimbulkannya.       </p>
<div>Kelebihan lain dari sensor image CMOS adalah kekebalannya terhadap radiasi kosmis. Pada misi Space Shuttle dari NASA, camera video dengan sensor CCD yang dipergunakan harus diganti blok CCD nya setiap kali akan mengangkasa lagi. Hal ini karena radiasi kosmis telah merusak beberapa piksel CCD, meskipun efeknya bisa disembunyikan secara teknis, tetapi kualitasnya menjadi tidak sempurna lagi. Sensor image CMOS tidak dipengaruhi oleh radiasi kosmis, bahkan secara teknis kekebalannya masih dapat ditingkatkan lagi di masa depan.       </p>
<div>Jadi berbeda dengan CCD, camera dengan sensor CMOS akan berukuran lebih kecil, konsumsi daya yang lebih efisien, serta kualitas yang lebih baik. Pada NAB 2003 yang lalu, JVC dan Ikegami telah memperkenalkan tipe camera dengan sensor image CMOS untuk camera high definition (HD) dengan ciri utama ukuran dan berat yang lebih kecil dari biasa.       </p>
<div>Di masa depan yang tidak terlalu lama, sensor image CMOS akan menjadi sesuatu yang tidak asing, hidup berdampingan atau bahkan sepenuhnya menggantikan fungsi dari sensor image CCD. Tentu saja hal ini akan berjalan mulus setelah kendala teknis dan ongkos produksi yang lebih rendah menjadi kenyataan.       </p>
<div><strong><u>(Drs. Widyanto, Msc</u></strong><strong><u> – Tenaga Ahli TV Consult)</u></strong></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=34</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>KRITERIA PEMILIHAN LENSA</title>
		<link>http://tvconsulto.com/?p=33</link>
		<comments>http://tvconsulto.com/?p=33#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jun 2006 08:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwan</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[(Drs.Widyanto, MSc - www.tvconsulto.com)
Pada saat ini kita mengenal berbagai jenis camera televisi, dari beberapa maker atau pembuatnya, dilihat dari tingkatan kualitas; dari kelas kambing sampai highend, dan dari harga yang ditawarkan, yang berkisar dari ribuan sampai puluhan ribu dollar.
Namun secara umum, unjuk kerja dan kualitas gambar dari camera yang ada sekarang  dengan prosesing sinyal digital [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Drs.Widyanto, MSc - </strong><a href="http://www.tvconsulto.com/"><strong>www.tvconsulto.com</strong></a><strong>)</strong></p>
<p>Pada saat ini kita mengenal berbagai jenis camera televisi, dari beberapa maker atau pembuatnya, dilihat dari tingkatan kualitas; dari kelas kambing sampai highend, dan dari harga yang ditawarkan, yang berkisar dari ribuan sampai puluhan ribu dollar.<br />
Namun secara umum, unjuk kerja dan kualitas gambar dari camera yang ada sekarang  dengan prosesing sinyal digital telah melebihi camera analog yang pernah kita kenal.<br />
Ketika kita membeli camera, tentu telah kita tentukan untuk apa aplikasi camera tersebut; apakah untuk aplikasi di studio, atau di lapangan. Kemudian kita memilahnya berdasarkan anggaran yang tersedia. Selanjutnya, disinilah biasanya kita kurang begitu jeli, untuk memilih lensa yang sesuai. Sesungguhnya, lensa memegang peranan penting untuk hasil gambar yang dihasilkan oleh camera.</p>
<p>Untuk aplikasi lensa di lapangan, yaitu camera Electronic News Gathering/ Electronic Field Production (ENG/ EFP), ada tiga kategori lensa: Lensa paket, lensa grade profesional dan lensa grade broadcast. Lensa paket adalah jenis lensa dengan harga paling murah. Lensa jenis ini dikemas satu paket dengan camera yang dipesan. Biasanya dalam urutan item pembelian camera hanya ditulis lensa zoom 18X, misalnya, tanpa menyebutkan spesifikasi yang spesifik. Harganya pun sudah termasuk dalam paket keseluruhan asesori standar. Lensa kategori ini didesain dengan kualitas biasa, kualitas optiknya marginal, aspek mekanikalnya juga tidak akan bertahan untuk jangka waktu yang relatif lama. Lensa ini selayaknya menjadi pilihan untuk aplikasi entry-level, murah meriah, ataupun untuk pilihan jika lensa atau camera tersebut hanya dipakai selama berfungsi dan selanjutnya ditukar yang baru. Contohnya adalah jenis camcorder dengan format yang sama untuk pemakaian home use atau consumer camera.</p>
<p>Kategori lensa dengan grade profesional mempunyai kualitas optis lebih baik, aspek mekanikal yang lebih andal. Lensa ini berunjuk kerja bagus untuk sejumlah aplikasi, dan pada situasi shooting yang moderat, tidak terlalu ekstrim. Lensa ini tersedia di pasaran dengan berbagai variasi rasio zoom dan focal length. Biasanya tidak dilengkapi 2X ekstender. Lensa grade profesional yang didesain untuk camera kelas menengah ini, juga sudah dilengkapi dengan berbagai opsi untuk asesori, seperti converter untuk wide dan telephoto, studio zoom dan focus control. Jika dirawat dengan baik, lensa ini akan berfungsi dengan baik selama bertahun-tahun. Inilah jenis lensa yang kebanyakan dimiliki oleh camera ENG/ EFP di stasiun TV mana pun, meskipun cameranya sendiri tidak berada di kelas menengah (mid-range).</p>
<p>Lensa dengan grade broadcast merupakan top-of-the-line, baik pada kualitas optis maupun kekuatan mekanisnya. Lensa dengan grade ini didesain untuk meningkatkan performa dari jenis camera broadcast terbaik, dan mampu memberikan layanan andal selama bertahun-tahun. Pemakaian lensa berkualitas broadcast merupakan standar bagi produksi berita dan program di kebanyakan stasiun TV di dunia. Kemajuan teknologi digital yang diterapkan pada sistem servo lensa broadcast saat ini memungkinkan proses zoom yang lebih presisi, cruise zoom, one-shot preset dan remote control untuk fungsi zoom, iris dan focus dengan interface RS-232.</p>
<p>Dari sisi perbandingan harga, lensa broadcast zoom digital 21X harganya mendekati harga camcordernya yang juga berkualitas broadcast. Sedangkan lensa broadcast wide angle harganya sekitar 11/2 harga lensa 21X. Sementara harga lensa broadcast telenya adalah 2X lebih harga lensa 21X. Nah, berapakah estimasi harga lensa profesional yang setara spesifikasinya dengan lensa 21X diatas? Yaitu sekitar sepersepuluh dari harga lensa kualitas broadcast tadi.</p>
<p>Mari kita lihat lebih jauh antara lensa studio dan lensa ENG/EFP. Selama beberapa tahun terakhir ini, telah terjadi kemajuan yang pesat pada perkembangan teknologi lensa. Lensa studio dengan kemampuan focal length dari 7mm. sampai 168mm. Lensa ENG/EFP berkembang dari 55X sampai 87X dengan focal length melebihi 2200mm.!</p>
<p>Lensa studio didesain untuk kemampuan close-up dengan minimum jarak obyek, minimum object distance (MOD) kurang dari satu meter. Pada pengambilan di lapangan, biasanya jarak reporter adalah sekitar 2 sampai 3meter, dengan asumsi reporter tadi membaca teks pada teleprompter. Sedangkan lensa tele di lapangan biasanya juga mempunyai MOD antara 2 sampai 3 meter, sehingga sulit dipakai di studio.</p>
<p>Saat ini lensa untuk High Definition TV (HDTV) juga telah berkembang pesat, dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, toleransi mekanik yang lebih kecil atau minimum. Karena format HDTV yang lebih lebar daripada standar TV, Standard Definition Television (SDTV) yaitu 16:9, maka resolusi pada daerah sudut lensa HDTV harus lebih tinggi, sehingga akan diperoleh reproduksi yang lebih presisi jika gambar ditampilkan pada layar yang berukuran lebar. Di pasaran juga tersedia lensa yang dapat diswitch untuk pemakaian aspek rasio 4:3 dan 16:9 yang dilengkapi dengan converter rasio yang sekaligus mengkoreksi efek berkurangnya angle-of-view yang terjadi jika lensa dengan dual format tadi digunakan pada format 4:3.</p>
<p>Beberapa jenis lensa wide dan tele saat ini mempunyai kualitas broadcast dengan label H, yang selain digunakan untuk SDTV juga dapat digunakan untuk HDTV, entah kapan. Mengapa kita minta jenis lensa ini..?, yang jelas lensanya adalah keluaran terbaru dan telah disempurnakan daripada tipe lama yang hanya untuk SDTV.</p>
<p><strong>(Drs. Widyanto, Msc – Tenaga Ahli TV Consult)</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://tvconsulto.com/?feed=rss2&amp;p=33</wfw:commentRSS>
		</item>
	</channel>
</rss>
